Rabu, 30 Maret 2016

Monumen GMT Teluk Palu



Gerhana Matahari merupakan salah satu Sunnatullah yang berlangsung secara konsisten, tidak pernah terlambat atau mendahului serta tidak meleset sedikitpun dari ketentuan yang telah ditaqdirkan oleh Allah SWT (Q.S.Al-Furqan: 2). Gerhana Matahari terjadi apabila garis orbit Matahari dan Bulan berada pada posisi yang sejajar, dan Bulan berada diantara Matahari dan Bumi sehingga Bumi tidak menerima sinar Matahari secara langsung karena tertutupi oleh Bulan. Ada tiga bentuk Gerhana, yaitu Gerhana berbentuk cincin, setengah lingkaran, dan Gerhana penuh (total). Selain itu ada juga yang disebut Gerhana Hybrid yakni perpaduan Gerhana Cincin dengan Gerhana Matahari Total yang menurut Astronom akan terjadi tahun 2023 di provinsi Maluku dan Papua Barat.
 
Lintasan gerhana matahari total 2016
Yang terjadi dan kita saksikan kemarin tanggal 9 Maret 2016 adalah Gerhana Matahari Total (GMT) karena Matahari dan Bulan berada pada garis edar yang sejajar sehingga Matahari yang tadinya bersinar terang, tiba-tiba menjadi hitam pekat karena ditutupi piringan Bulan. Maka jadilah Bumi yang kita tempati ini gelap seketika seperti saat Matahari terbenam di waktu maghrib.
 
Masyarakat menyaksikan gerhana matahari total dari Jembatan Teluk Palu
Proses GMT tersebut berlangsung selama 2.33 jam mulai pukul 07.27 pagi saat Bulan mulai memasuki piringan Matahari, dan pukul 08.47 Matahari tertutup penuh (Total). Matahari kelihatan utuh/normal setelah tersingkap kembali dari tutupan piringan Bulan pada pukul 10.00. Karena peredaran kedua benda langit ini bergerak sangat cepat, maka Bulan tampak sempurna menutupi Matahari hanya dalam durasi 2 menit lebih sedikit. Saat-saat GMT adalah pemandangan yang sangat indah dan istimewa karena pada saat itu Korona (Mahkota) Matahari yang berwarna-warni itu dapat terlihat dengan jelas.
 
Gerhana Matahari Total 9 Maret 2016
Pertemuan piringan Matahari dan piringan Bulan jangan diasumsikan bagaikan dua piring yang saling menutupi, tidak seperti itu karena kedua benda langit itu berada pada posisi yang sangat berjauhan. Menurut LAPAN (Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional), jarak Matahari dengan Bumi sekitar 150 juta kilometer sementara Bulan hanya 40 juta kilometer.
 
Ilustrasi gerhana Bulan dan gerhana Matahari
Peristiwa alam ini memberikan kebanggaan dan kepuasan tersendiri bagi Astronom karena mereka dapat membuktikan hasil pengamatan dan perhitungan yang sangat cermat. Jauh sebelumnya, tepatnya tahun 2009 Astronom Riser Fahdiran sudah memastikan dan mempublikasikan keseluruh dunia bahwa 9 Maret 2016 akan ada Gernaha Matahari Total dan hanya terjadi di Indonesia pada 11 provinsi. Atas informasi itu, maka mata dunia tertuju ke Indonesia. Tiga tahun menjelang GMT para peneliti/ilmuan dan wisatawan asing mulai memesan hotel untuk datang memantau langsung fenomena alam itu. Dapat dibayangkan sekiranya prediksi dan perhitungan mereka tidak tepat dan GMT tidak terjadi, alangkah kecewa dan ruginya para wisatawan mancanegara dan nusantara berikut kerugian Pemerintah setempat yang telah mempersiapkan fasilitas menyambut GMT. Syukur, GMT dapat terjadi tepat waktu, sehingga puluhan juta orang Indonesia dan puluhan ribu wisman dapat merasa puas menyaksikan peristiwa unik baik secara langsung maupun lewat layar monitor TV. Salah satu diantara peneliti asing yang datang ke Palu memantau GMT adalah  Astronot Andre Kuipers (Belanda). Ia mengaku sudah dua kali menginjakkan kaki di Bulan (thn. 2004 dan 2012).
 
Andre Kuipers berjumpa dengan Jusuf Kalla di Palu
Penemuan dan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi bermula pada masa Dinasty Abbasyiah di Iraq (749 - 1258 M). Khusus bidang ilmu Falaq (astronomi) dirintis oleh Ibrahim Al-Fazari (th. 771), sejak itu terus mengalami perkembangan pesat. Dengan perhitungan (hisab) yang sangat akurat terhadap peredaran Matahari, Bulan dan Bumi mereka dapat memprediksi terjadinya suatu fenomena alam  jauh sebelumnya seperti GMT dan yang lainnya.

Monumen GMT

Gerhana Matahari Total yang terjadi tanggal 9 Maret 2016 M / 29 Jamadil Awal 1437 H yang bertepatan Hari Nyepi Tahun Baru Saka 1938, oleh Pemerintah Kota Palu membangun sebuah Monumen sebagai peringatan bahwa Palu Sulawesi Tengah pernah dilintasi Gerhana Matahari Total. Monumen ini memang penting karena peristiwa serupa akan terjadi di tempat yang sama (Palu) setelah 350 tahun. Tugu/Monumen tersebut dibangun di Pantai Talise dengan tinggi 7 meter. Pada puncaknya dipasang semacam bola dunia bertuliskan “GMT 9 Maret 2016” Bola Dunia itu akan berputar terus menerus siang malam tanpa henti selama ada angin bertiup.  Tugu GMT ini diresmikan oleh Wakil Presiden Drs. H.M. Jusuf Kalla. Beliau bersama isteri Hj. Mufidah serta sejumlah menteri sengaja datang ke Palu untuk menyaksikan secara langsung tanda-tanda kekuasaan Allah SWT. Monumen yang terletak di Anjungan Nusantara akan menjadi salah satu objek Wisata yang menawan karena berhadapan dengan Teluk Palu yang indah mempesona.
 
Tugu GMT di Teluk Palu
Selamat berkunjung ke Tugu GMT, sambil menyaksikan keindahan Teluk Palu, juga dapat menikmati berbagai makanan minuman khas Kota Palu. (Palu, 20 Maret 2016)

Jilbab Vs Baju dan Celana Ketat



Busana hijab/jilbab telah menjadi trend masyarakat muslim Indonesia dewasa ini, bukan saja di kota-kota, tetapi sudah meluas sampai ke desa-desa pedalaman. Hijab dan jilbab keduanya adalah bahasa Arab (hijaabon/Jalaba). Arti harfiyahnya berbeda namun maksud tujuannya sama. Hijab berarti “penghalang” yang dalam hal ini, bagian-bagian tubuh wanita yang tidak boleh diperlihatkan (aurat) dihalangi atau dilindungi dengan pakaian, sedangkan jilbab bermakna “menghimpun”. Maksudnya menyatukan atau merangkai pakaian dari atas ke bawah untuk menutupi tubuh. Jadi, Hijab atau Jilbab adalah kain yang menutupi tubuh wanita dari ujung rambut sampai ujung kaki. Atau kain penutup kepala dan leher yang dirangkai dengan baju, rok atau celana untuk melindungi seluruh tubuh wanita kecuali kedua telapak tangan, kaki dan wajah.

Pemakaian busana muslim untuk menutup aurat tekait dengan tuntunan syariat Islam antara lain firman Allah SWT “Wahai Nabi (Muhammad) katakanlah kepada isteri dan anak-anak wanitamu dan isteri orang-orang mukmin agar mengulurkan baju kurung/jilbabnya keseluruh tubuh mereka . . . . . .” (Q.S. Al-Ahzab: 59). Penggunaan pakaian jenis jilbab/hijab ini mengalami perkembangan cukup pesat sejak akhir tahun 1990-an yang sebelumnya dianggap asing, bahkan ada instansi pemerintah melarang memakai jilbab dengan dalih menyalahi model pakaian seragam. Sekarang situasi kondisi telah berubah. Jilbab bukan hanya dikenakan saat akan menghadiri pengajian, pesta dan pertemuan-pertemuan resmi, tetapi sudah menjadi pakaian sehari-hari, ke pasar, ke tempat kerja, pakaian siswa/mahasiswa, dan rekreasi.

Dengan maraknya peminat pengguna modis (mode Islam) seperti itu, mengundang para desainer/perancang mode dan industri fashion yang memproduksi berbagai model dan corak plus aksesori dan variasinya. Ada jilbab yang simple dan instan (langsung dipasang) serta ada yang rumit cara pemakaiannya. Namun pada prakteknya, penggunaan busana  itu banyak yang menyimpang dari makna jilbab/hijab yang sebenarnya. Tidak sedikit hanya sekedar ikut trend dan mode masa kini dan merasa diri telah berpakaian islami tanpa menyadari apakah sudah sesuai dengan syar’i atau malah justru mengundang dosa pada diri dan orang lain.
 
Pakaian ketat yang mengundang dosa
Ada empat kriteria busana wanita yang syar’i, yakni menutupi aurat, tidak tembus pandang, tidak ketat, dan tidak menyerupai pakaian laki-laki. Pada rubrik ini penulis ingin menyoroti pemakaian jilbab dengan baju dan celana ketat. Islam mewajibkan berjilbab untuk menutup aurat dan lekukan tubuh. Tapi pada kenyataannya, para wanita muslim baik remaja maupun yang sudah menikah mengacuhkan syarat dan kriteria syar’i tersebut. Mereka merasa berbusana muslim karena sudah tutup kepala dan leher namun tidak melindungi bentuk dan lekuk tubuh pada dada dan punggungnya, terlebih lagi jika dipadu dengan celana jeans ketat dan baju kaos pendek yang hanya sampai sebatas punggung sehingga masih menampakkan lekuk tubuh termasuk yang ada pada dada mereka. Yang sangat jelas secara fitrah semua laki-laki normal (tua muda) akan bergairah melihat apalagi membayangkannya.

Memang, mungkin bagi wanita yang senang memakai busana seperti itu tidak ada maksud untuk memancing/menggoda lawan jenisnya, dan juga tidak ada syahwat pada dirinya. Mereka memakai pakaian seperti itu semata-mata karena praktis, enak, dan nyaman sebagai suatu ekspresi seni baginya. Namun tanpa mereka ketahui bahwa kaum Adam yang melihatnya dapat tergoda, hingga membangkitkan syahwat/libido dan frekuensi denyutan jantungnya meningkat seketika… Astaghfirullah!

Kepada kaum Hawa, jika memang senang dan merasa lebih praktis dengan menggunakan jilbab instan berpasangan dengan celana panjang, pilihlah celana yang agak longgar sehingga tidak memberi bentuk pada paha dan betis yang kemudian dipadukan dan dikombinasikan dengan baju lengan panjang agak ke bawah mendekati batas lutut sehingga menutupi aurat Anda dengan sempurna. Dengan tips ini anda akan tampil  cantik, indah, anggun  dan menarik bagi siapa yang melihatnya serta tidak mengundang dosa.
 
Hijab syar'i
Akhirnya penulis menghimbau kepada para pria yang mempunyai isteri dan anak-anak wanita, ajaklah mereka memakai busana muslim yang benar. Model dan coraknya terserah sesuai bodi dan selera masing-masing, yang penting menutup aurat, tidak tipis/transparan dan tidak menampakkan lekuk-lekuk tubuh yang menggoda. Wallahu a’lam bishshawab. (Palu, 1 Februari 2016)