Rabu, 26 Agustus 2015

Ziarah ke Gua Tsur


Meskipun tidak ada dalil yang menunjukkan keutamaan Gua Tsur, nabi tidak pernah menganjurkan dan tidak ada kaitannya dengan rukun/wajib haji, tapi banyak jamaah berusaha mengunjungi/menziarahi Gua Tsur sebagai salah satu tempat bersejarah dalam penyebaran agama Islam. 
Mulut Gua Tsur
Gua Tsur berada pada salah satu puncak dari 3 puncak deretan pegu- nungan Jabal Tsur, letaknya kurang lebih 7 km sebelah selatan Ka’bah kearah Thaif. Gua ini dinamai demikian karena ditemukan oleh orang yang bernama Tsur bin Abdu Mapah. Gua Tsur berada pada ketinggian sekitar 450 meter dari permukaan daratan, lebih tinggi dari Gua Hira (280 m). Luasnya kira-kira 3 x 3 m, tinggi 1,25 m, bentuknya cekung menyerupai kuali, mempunyai 2 pintu masuk dibagian depan dan belakang. Penulis waktu di tanah suci tahun 2003 ingin sekali naik gunung untuk memasuki Gua itu, tapi Ketua Yayasan/ pemandu ziarah tidak mengizinkan karena beresiko. Untuk itu, Ketua Yayasan mengarahkan jamaah ke Gua Hira di Jabal Nur tempat turunnya Alquran pertama. Memang di kaki gunung Jabal Tsur dipajang papan peringatan dalam beberapa bahasa, termasuk bahasa Indonesia untuk berhati-hati ketika naik ke Gua Tsur.
Jamaah haji yang bersiap memasuki Gua Tsur

Sejarah Gua Tsur sangat erat kisahnya dengan peristiwa perjalanan hijerah Nabi Muhammad SAW. Di Gua ini nabi bersama Abu Bakar bersembunyi dari kejaran kafir Quraisy. Perjalanan ini terjadi ketika kaum kafir Quraisy sudah sampai pada puncak kejengkelannya melihat perkembangan Islam yang semakin pesat. Dalam musyawarahnya, para tokoh/elit kafir Quraisy sepakat akan membunuh Muhammad, lalu mereka mengumpulkan para pemuda dari kabilah-kabilah yang ada di Mekkah. Atas rencana jahat itu, Allah SWT memberi isyarat kepada Rasul-Nya untuk meninggalkan kota Mekkah. Namun sebelumnya, beliau pergi menemui Abu Bakar dan meminta kesediaannya menemani dengan kesepakatan berangkat di malam hari dari rumah masing-masing dan akan bertemu di Jabal Tsur. 

Rupanya rencana nabi tersebut tercium oleh orang-orang kafir, maka pada malam itu juga pemuda Quraisy yang telah ditugaskan, mengepung rumah Rasulullah dan akan membunuhnya ketika keluar rumah. Mengsiasati keadaan yang menegangkan itu, beliau menyuruh adik sepupunya, Ali bin Abu Thalib untuk menempati pembaringannya supaya para pengepung mengira bahwa yang tidur itu adalah Muhammad. 

Waktu Rasulullah akan keluar meninggalkan rumahnya, turun ayat yang artinya “Kami (Allah) adakan dinding (sekatan) di depan dan di belakang mereka dan Kami tutup mata mereka sehingga tidak bisa melihat” (Q.S. Yaa Siin : 9). Berkat bacaan ayat ini, sejumlah pemuda yang mengepung rumah Rasulullah tertidur pulas sehingga tidak ada satu orangpun diantara mereka melihat nabi keluar rumah. Ketika mereka terbangun dan tidak sabar menunggu nabi keluar, mereka lalu mendobrak pintu rumah nabi, ternyata yang ada ditempat tidur itu adalah Ali bin Abu Thalib, maka bertambah marahlah kaum kafir Quraisy. Mereka mengejar/mencari jejak nabi di seluruh pelosok kota Mekkah dan sekitarnya tapi tidak ditemukan, akhirnya mereka mengumumkan bagi siapa yang menemukan atau menunjukkan dimana Muhammad berada akan diberi hadiah 100 ekor unta. Ada yang mencarinya dalam kota, pinggir/luar kota bahkan ada yang sampai mendaki gunung Tsur. 

Di  Gua Tsur yang tadinya diperkirakan Muhammad ada di dalamnya, tapi karena ada sarang laba-laba dan sarang burung merpati di pintu masuk sehingga mereka berkesimpulan bahwa tidak mungkin ada manusia dalam gua ini. Memang ada diantara mereka nekad mau masuk gua tapi yang lainnya berkata untuk apa masuk? Itu sarang laba-laba dan sarang merpati di pintu gua. Keberadaan algojo kafir Quraisy di luar gua terlihat oleh Abu Bakar, ia menggigil dan pucat karena ketakutan. Melihat Abu Bakar seperti itu, nabi meyakinkan, jangan kira kita hanya berdua, sesungguhnya kita bertiga, yang ke-3, Dialah yang menggenggam kekuasaaan, Allah SWT. Keadaan mereka dalam gua tersebut digambarkan oleh Allah yang artinya “… Ingat ketika keduanya (dalam Gua Tsur), ia (Muhammad) berkata kepada sahabatnya (Abu Bakar) jangan bersedih dan jangan takut, sesungguhnya Allah menyertai kita…”(Q.S. At-Taubah : 40). Tidak lama kemudian para pembunuh bayaran itu meninggalkan gua dengan tangan kosong.

Setelah Nabi Muhammad dan Abu Bakar merasa aman dari pencarian, mereka keluar gua untuk melanjutkan perjalanannya ke Yastrib (Madinah). Selama 3 hari 3 malam dalam gua, makanan diantarkan oleh Abdullah, putra Abu Bakar secara sembunyi-sembunyi. Peristiwa perjalanan hijerah ini terjadi pada September 622 atau tahun ke-13 dari kenabian Muhammad SAW.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar