Rabu, 08 April 2015

Jalan-Jalan ke Gua Hira

Gua Hira di Mekah
Menjelang keberangkatan Calon Jamaah Haji Indonesia ke Tanah Suci Mekkah tahun 1432/ 2011, ada baiknya diketahui bahwa salah satu obyek ziarah yang perlu dikunjungi ialah Gua Hira, tempat turunnya Al-Qur’an yang pertama. Para pengelola Yayasan Bimbingan Ibadah Haji Indonesia semestinya memprogramkan bahkan memprioritaskan dan memfasilitasi jamaahnya mengantar menziarahi Gua Hira tersebut.


Gua Hira berada disebuah bukit yang terletak 5 km sebelah Utara Ka’bah atau di sebelah kiri jalan yang dilalui ketika berangkat dari Masjidil Haram ke Padang Arafah. Gua inilah yang di tempati Muhammad Al-Amin berkhalwat (bertahannuts) menjauhkan diri dari keramaian kota Mekkah pada setiap bulan Ramadhan sebelum kenabiannya. Bukit dimana Gua itu berada kemudian lebih dikenal dengan nama “Jabal Nur” artinya Bukit Cahaya, karena di situlah terpancarnya cahaya Al-Qur’an pertama yang di turunkan Allah SWT dari Lauhem Mahfudz melalui Malaikat Jibril kepada Muhammad. Peristiwa ini terjadi pada 17 Ramadhan 13 tahun sebelum hijeriah / 6 Agustus tahun 610 sesudah masehi.

Adalah aneh tapi nyata bahwa bukit Jabal Nur itu senantiasa kelihatan bercahaya walau di malam hari tanpa bulan, sepertinya ada pantulan cahaya yang tidak diketahui dari mana arahnya, sementara deretan bukit-bukit sekitarnya tidak demikian, bukan hanya setinggi pendakian, tapi yang paling aneh bin ajaib ialah di dalam Gua yang sempit itu tetap terang bercahaya, Masya Allah. Dengan adanya cahaya seperti itu, maka tidak sedikit jamaah lebih senang berziarah dimalam hari sampai menjelang subuh untuk menghindari teriknya panas matahari serta menghindari kepadatan pengunjung dan antrian panjang di siang hari. Sekedar untuk diketahui bahwa Jabal Nur itu gundul tidak ditumbuhi rumput apalagi pepohonan, hanya terdiri dari lempengan-lempengan batu dalam ukuran besar dan kecil.


Tidak semua jamaah haji yang bekunjung ke Jabal Nur mampu mencapai dan memasuki Gua Hira, hanya yang berusia 60 tahun kebawah, kuat dan sehat serta yang berkemauan keras, sebab masih harus mendaki lebih dari 250 meter dengan kemiringan kurang lebih 45 derajat. Sesampai di puncakpun belum langsung menemukan Gua. Masih harus turun lagi sekitar 10 meter dengan posisi terjal yang mengerikan dan letak batu besar yang bercelah sangat sempit (orang dengan tubuh besar harus memiringkan badan, ada juga yang melucurkan badannya dari atas ke bawah) menuju area Gua.


Pendakian untuk mencapai Gua Hira memerlukan waktu antara 30 – 45 menit demikian juga pulangnya. Praktis waktu yang dibutuhkan untuk ziarah ketempat yang sangat monumental itu minimal 1 jam. Namun selama dalam perjalanan pergi pulang (mendaki/ menurun) tidak perlu membawa makanan dan minuman, ada beberapa tempat persinggahan untuk istrahat bila capek dan haus. Disitu ada penjual makanan dan minuman plus souvenir ala Arab Saudi untuk ole-ole dibawa pulang ke tanah air.

Gua Hira terbentuk secara alamiah, terdiri dari susunan lempengan batu besar yang tidak beraturan tapi sangat kokoh kuat. Konon ceritanya, dari dulu (sebelum Islam) hingga kini lempengan-lempengan batu itu tidak mengalami pergeseran sedikitpun. Bagian terpanjang pada sisi-sisinya berukuran sekitar 3 x 1,5 meter, tinggi 2 meter. Untuk shalat hanya cukup 2 orang dan jika berbaring boleh 3 orang. Pintu tempat masuk membelakangi Ka’bah sehingga begitu masuk secara otomatis kita menghadap ke Ka’bah. Di celah-celah batu dalam Gua ini kita dapat melihat dari kejauhan Menara Jam Masjidil Haram, dan dibagian kanannya terdapat batu besar berposisi semacam serambi atau teras. Batu ini sudah diratakan permukaannya dan bisa ditempati untuk shalat.


Karena Gua Hira itu sangat sempit sedangkan pengunjung cukup banyak (laki dan wanita), maka terpaksa harus melalui antrian panjang. Apa yang mereka lakukan dalam Gua itu? Ialah shalat sunat dan berdoa sebagai bukti kecintaan kepada Nabi Muhammad SAW dan Kitab Suci Al-Qur’an yang diturunkan disitu (walau sebenarnya amalan seperti itu tidak disyariatkan). Para jamaah yang akan menunaikan ibadah haji, pria dan wanita, khususnya yang berusia muda, sehat dan kuat fisik hendaknya memasang niat untuk mengunjungi Gua Hira. Gua ini pada hakekatnya merupakan tempat pengangkatan dan pelantikan Muhammad Al-Amin menjadi Nabi, sekaligus sebagai awal kelahiran Agama Islam yang ditandai dengan diturunkannya Wahyu yang pertama yang artinya “Bacalah dengan nama Tuhanmu, yang menciptakan manusia dari segumpal darah. Bacalah, Tuhanmu itu Maha Mulia, yang mengajarkan manusia dengan perantaraan Qalam apa-apa yang belum diketahui” (Q.S. Al- Alaq : 1 – 5).


Untuk itu, para pengurus Yayasan Bimbingan Ibadah Haji diharapkan mengalokasikan waktu yang cukup buat jamaahnya untuk melihat dan memasuki Gua Hira. Karena selama ini banyak pengelola Yayasan mengantar jamaahnya hanya sampai di kaki gunung Jabal Nur saja, tidak memberi kesempatan naik / masuk Gua dengan dalih waktu terbatas mengingat masih ada obyek yang akan dikunjungi. Sekiranya pihak yayasan tidak menyediakan waktu yang cukup, maka solusinya adalah jamaah sendiri yang berupaya mencari kendaraan. Banyak kendaraan dipersiapkan baik yang carteran maupun hanya mengantar saja. Dan untuk pulang ke pondokan juga tidak susah.


Dengan menyempatkan diri jalan-jalan mendaki Jabal Nur masuk Gua Hira, bapak-bapak ibu-ibu jamaah haji akan memperoleh kesan dan kepuasan tersendiri melebihi kepuasan saat kita mencium Hajarul Aswad dan tidak akan pernah dilupakan. Selain itu, juga akan lebih memperkuat keimanan dan ketaqwaan kepada Allah SWT, meningkatkan ketaatan kepada Rasulullah Muhammad SAW serta kecintaan terhadap kitab Suci Al-Qur’an yang diturunkan untuk pertama kalinya di Gua Hira itu. Semoga!
 

Palu, 20 September 2011

1445 Tahun Nuzulul Qur'an

Adalah suatu keunikan dan kelangkaan di tahun ini karena Peringatan Turunnya (Nuzul) Qur’an yang ke-1445 dan Peringatan Hari Kemerdekaan bangsa Indonesia yang ke-66 terjadi pada hari, tanggal dan bulan yang sama; yakni Rabu,17 Agustus 2011. Al-Qur’an diturunkan sebagai petunjuk bagi manusia bukan hanya untuk dibaca dan dihafal, bukan pula untuk dilombakan, tetapi yang terpenting adalah dimengerti, dihayati dan diamalkan.

Salah satu kebiasaan para ahli pikir bangsa Arab di zaman jahiliyah ialah berkhalwat/ bersemadi di tempat-tempat sunyi untuk menenangkan pikiran sambil memohon limpahan ilmu dan hikmah dari dewa-dewa dan patung berhala yang mereka percayai. Muhammad Al-Amin sebelum menjadi Nabi dan Rasul juga melakukan hal yang sama. Namun renungan dan permohonannya bukan kepada dewa-dewa, bukan pula kepada Hubal, Lata, Manat, wal Uzza, tapi beliau berkhalwat dan beribadah menurut syariat/millah Nabi Ibrahim, as.
 

Disebuah gunung yang terletak seputar 5 km sebelah utara bangunan Ka’bah terdapat Gua yang diberi nama “Gua Hira”. Gua ini terbentuk secara alamiah, terdiri dari susunan lempengan batu yang tidak beraturan. Bagian terpanjang pada sisi-sisinya kurang lebih 3 X 1,5 m, tinggi 2 m. Untuk mencapai dan memasuki Gua ini cukup berat sebab sesampai di puncak gunung tersebut dengan ketinggian 280 m, masih harus turun 10 m lagi dengan posisi terjal dan bercelah sangat sempit (orang dengan tubuh besar harus memiringkan badan).
 

Tempat inilah yang dipilih Muhammad untuk berkhalwat (bertahannuts) menjauhkan diri dari keramaian kota Mekkah menenangkan hati dan pikiran mencari makna kehidupan. Saat beliau bertahannuts dalam Gua di bulan Ramadhan, datang seorang yang tidak dikenalnya, yang ternyata adalah Malaikat Jibril. Ia membawa sehelai tulisan dan menyuruh membaca nya, Bacalah !!! Dengan rasa kaget dan terperanjat, Muhammad mengatakan “Ma ana bi qari’" (saya bukan pembaca). Beliau di rengkuh-rengkuh dan disuruhnya membaca sekali lagi, namun Muhammad lagi-lagi berkata "Ma ana bi qari’". Pada perintah ketiga, beliau menjawab "apa yang saya baca?" Jibril lalu menuntunnya : "Iqra’ bismi rabbikal ladzi khalaq. Khalaqal insana min alaq. Iqra’ wa rabbukal akram. Alladzi allama bil qalam. Allamal insana ma lam ya’lam." Artinya “Bacalah dengan nama Tuhanmu yang menciptakan manusia dari segumpal darah. Bacalah, Tuhanmu maha Mulia yang mengajarkan dengan perantaraan kalam. Dialah yang mengajarkan manusia apa-apa yang belum diketahuinya." (Q.S. Al-Alaq : 1 – 5).

Itulah wahyu Allah SWT yang pertama diantarkan oleh Jibril kepada Muhammad sekaligus pengangkatan beliau sebagai Nabi. Gunung dimana Gua Hira itu berada sekarang lebih dikenal dengan “Jabal Nur” artinya Gunung Cahaya karena disitulah terpancarnya cahaya Al-Qur’an pertama yang diturunkan dari Lauhem Mahfudz.


Peristiwa yang sangat monumental di Gua Hira itu terjadi pada tanggal 6 Agustus tahun 610 sesudah Masehi bertepatan 17 Ramadhan 13 tahun sebelum Hijriah. Atau 1401 tahun Syamsiah yang lalu sama dengan 1445 tahun Qamariyah. Al-Qur’an yang diturunkan untuk pertama kalinya itu dijelaskan sendiri oleh Allah dalam firmanNya “Pada bulan Ramadhan Al-Qur’an diturunkan sebagai petunjuk bagi manusia berikut penjelasan nya serta pemisah (antara yang hak dan yang bathil)” (Q.S.Al-Baqarah : 185).


Al-Qur’an ini diturunkan secara berangsur-angsur sesuai kebutuhan dan perkembangan masyarakat muslim selama 23 tahun dalam 2 periode, 13 tahun di Mekkah, 10 tahun di Madinah. Ayat terakhir ialah firman Allah yang artinya “Pada hari ini telah Aku sempurnakan agamamu, Aku telah cukupkan nikmatKu dan Aku ridha Islam sebagai Agamamu” (Q.S.Al-Maidah: 3). Ayat ini turun saat Nabi Muhammad SAW bersama sejumlah pengikutnya wukuf di Arafah pada 9 Zulhijjah 10 H/ 7 Maret 632 M.


Pelaksanaan rukun Islam yang ke-5 di musim haji ketika itu, lalu kemudian dinamai “Haji Wada’" atau Haji Perpisahan, artinya kesempatan terakhir buat Nabi Muhammad mengunjungi Masjidil Haram, Padang Arafah, Musdalifah dan Mina karena 4 bulan setelah itu beliau kembali ke rahmatullah pada 12 Rabiul Awal 11 H / 8 Juni 632 M dalam usia 63 tahun. Menjelang akhir hayatnya, Rasulullah Muhammad SAW berpesan kepada umatnya dengan Sabdanya “Aku tinggalkan dua perkara (sebagai pusaka). Kamu tidak akan tersesat selama kamu berpegang pada keduanya, yaitu Kitabullah (Al-Qur’an) wa Sunnatur Rasul (Al-Hadist)


Al-Qur’an sebagai pusaka dan buku rujukan, bukan hanya untuk dibaca, bukan pula untuk dihafal dan hanya di lombakan dalam STQ/MTQ, tetapi Al-Qur’an diturunkan supaya dimengerti, dihayati dan diaplikasikan dalam kehidupan sehari-hari. Banyak diantara kita fasih membacanya, bahkan dapat menghafalnya 30 juz, namun hanya sedikit mengetahui maknanya sehingga pengamalannyapun belum memadai. Demikian pula karena hanya tertarik dengan pahala membacanya luar biasa (satu huruf 10 pahala) sehingga mereka hanya berusaha menamatkan (khatam) 30 juz beberapa kali, khususnya di bulan Ramadhan tanpa ada minat dan upaya untuk memahami terjemahan dan tafsir dari ayat-ayat yang dibacanya.
 

Melalui himbauan Kementerian Agama Kota Palu, marilah kita semarakkan Gerakan Masyarakat Maghrib Mengaji (GM3). Dengan gerakan ini diharapkan dapat meningkatkan kelancaran dan kefashihan membaca Al-Qur’an berikut penghayatan dan pengamalannya sebagai pedoman hidup bagi kita umat Islam demi keselamatan dan kebahagiaan dunia- akhirat, semoga!
 

Palu, 15 Ramadhan 1432 H/15 Agustus 2011 M

Ramadhan, Bulan Menenun Benang Taqwa

Jauhi maksiat, perbanyak ibadah selama Ramadhan
Ramadhan adalah bulan diwajibkannya umat Islam berpuasa untuk meningkatkan iman dan taqwa kepada Allah SWT. Melalui ibadah puasa diharapkan dapat melatih diri mengendalikan nafsu yang kadang-kadang karena dorongan hawa nafsu membawa bencana dan malapetaka, bukan hanya pada diri sendiri tapi boleh jadi terhadap orang lain dan masyarakat pada umumnya.

Memang pada asal kejadiannya, nafsu diciptakan oleh Allah bersifat pembangkan dan egois. Pertanyaannya adalah kenapa diberikan kepada manusia, apakah Allah hendak menjadikan manusia sebagai generasi penerus nafsu yang sombong dan arogan? Jawabnya ya! Tapi itu adalah batu ujian, apakah kita dapat terbawa arus mengikuti keinginan hawa nafsu atau dapat dikendalikan. Al-Qur’an menjelaskan “Allah mengilhamkan kepada nafsu jalan kejahatan dan ketaqwaan. Sungguh beruntung orang yang mensucikan dan mengendalikan nafsunya dan celakalah mereka yang mengotorinya” (Q.S. Asy-Syamsu : 8).


Walau sering membawa malapetaka bukan berarti nafsu harus dimusnakan dan dihilangkan, justru sangat diperlukan. Sebab dengan nafsu kerja keras orang bisa kaya, dengan nafsu ingin berkuasa ia rela berjuang dan berkorban, dengan nafsu keindahan akan terjadi perubahan dan perkembangan, dengan nafsu biologis mereka dapat berketurunan sehinggah anak cucu Adam – Hawa tidak punah dan lain sebagainya.
 

Menundukkan dan mengendalikan hawa nafsu adalah tidak gampang, laksana hendak menjinakkan binatang liar lagi buas. Bila pawangnya berhasil, maka harimau dan gajah misalnya dapat dimanfaatkan. Namun kalau salah metode, justru pelatih/majikannya akan terkoyak-koyak digigit bahkan bisa binasa. Demikian pula halnya nafsu. Jika tidak dapat dikendalikan, kita akan terjerumus ke dalam masalah yang mengorbankan diri sendiri dan orang lain. Salah satu cara yang paling ampuh dan efektif dalam pengendalian nafsu ialah dengan berpuasa dalam arti yang sesungguhnya. Karena dalam ibadah puasa terkandung nilai-nilai ketaatan, keikhlasan, kedisiplinan, kesabaran dan yang paling mendasar ialah kejujuran. Tidak ada yang tahu bahwa ia berpuasa atau tidak kecuali Allah dan dirinya sendiri, makanya Allah sendiri yang akan menentukan bobot pahala ibadah puasa itu.
 

Pelaksanaan Rukun Islam yang keempat dalam upaya pengendalian nafsu tersebut tidaklah mudah, Tetapi dengan niat dan kemauan keras, Insya Allah akan berhasil. Nafsu negatif (Ammarah) yang tadinya dominan, pada akhirnya akan digeser oleh nafsu positif (Muthmainnah) yang cenderung kepada kebaikan. Nafsu inilah yang dipanggil oleh Allah dengan firmanNya “Wahai nafsu yang tenang (Muthmainnah), kembalilah kepada Tuhanmu dengan rasa puas dan di redhai, masuklah ke dalam golongan hambaKu dan masuklah ke dalam sorgaKu" (Q.S. Al-Fajer : 27).

Ibadah puasa yang dilakukan itu adalah atas dorongan Iman, karena memang merupakan syarat mutlak diwajibkannya orang berpuasa. Firman Allah “Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan kepadamu berpuasa sebagaimana telah diwajibkan pada umat terdahulu agar kamu bertaqwa” (Q.S. Al-Baqarah : 183). Namun, Iman dalam arti sebatas ucapan dan keyakinan, keadaannya masih telanjang, tidak berselubung dan belum berpakaian. Pakaiannya ialah “TAQWA” Olehnya itu, maka pelaksanaan puasa untuk mencapai derajat taqwa bagaikan menenun pakaian rohani guna menutupi dan menghiasi iman. Kalau pakaian jasmani banyak corak dan modelnya, tapi pakaian rohani hanya satu model yaitu taqwa yang diwarnai dengan berbagai amal kebaikan. Taqwa sebagai pakaian telah dijelaskan oleh Allah SWT “Wahai anak cucu Adam, sesungguhnya Kami telah menciptakan untukmu pakaian yang menutup aurat, dari yang kasar dan yang halus. Sesungguhnya pakaian taqwa itulah yang paling baik” (Q.S.Al-A’raf: 26)

.
Hasan Basry, seorang sufi menggambarkan apabila taqwa telah bersemi dalam dada manusia, maka kuatlah keyakinan, teguh dan bijaksana, murah hati dan ringan tangan, tidak menuntut dan tidak mengambil yang bukan haknya serta tidak menahan hak orang lain, tidak menghabiskan waktu dalam perbuatan sia-sia. Ia diam supaya selamat, bila berbicara memberi manfaat, jika berhasil dan beruntung ia bersyukur, bila mendapat musibah dan ke gagalan ia bersabar, jika ditegur ia berterima kasih serta menyesali kekeliruannya.
 

Itulah untalan benang pakaian taqwa, inilah benang-benang yang kita pintal, yang kita tenun selama ini untuk menghiasi iman kita. Khusus tenunan benang taqwa yang kita pintal di bulan Ramadhan, hendaknya dijaga dan dipelihara baik-baik jangan sampai kusut/terurai berantakan di luar Ramadhan disebabkan oleh kita sendiri karena nafsu yang tadinya jinak terkendali menjadi liar dan buas kembali.
 

Perlu diingat bahwa Syaithan-syaithan yang terbelenggu, lemah lunglai dan bertekuk lutut di bulan Ramadhan, ia tidak menerima begitu saja dan tidak berhenti sampai disitu serta tidak rela dengan kekalahannya itu. Ia akan menggoda silih berganti. Selama mata masih melihat, telinga mendengar, kaki masih berjalan, tangan dapat menggenggam dan jantung masih berdenyut, bujuk rayu syaithan/iblis pasti datang bertubi-tubi menemui dan membisik kita di luar bulan puasa agar melakukan perbuatan haram serta menghalangi berbuat kebaikan. Firman Allah yang artinya “Karena Engkau telah menghukum saya tersesat (kata syaithan kepada Allah), maka aku akan menghalang-halangi manusia dari jalan lurus. Aku akan datangi mereka (dengan tipu dayaku) dari depan dan dari belakang, dari kanan dan dari kiri sehingga Engkau (Allah) tidak mendapati mereka bersyukur” (Q.S. Al-A’raf : 16 – 17).

Kita semua pasti akan terjebak dan terperdaya dengan godaan syaithan/iblis kecuali orang yang kuat iman dan taqwanya serta ikhlas beramal. Iman, taqwa dan amal shaleh merupakan modal bagi kita. Tidak akan ada kebahagiaan, ketentraman dan keselamatan dunia akhirat tanpa iman dan taqwa kepada Allah SWT. Kiranya nilai-nilai taqwa yang kita tenun dan yang kita peroleh melalui ibadah puasa dan amalan-amalan lainnya selama bulan Ramadhan 1432 ini kita dapat pelihara dan mempertahankannya sepanjang 11 bulan ke depan, Semoga !


Palu, 25 Juli 2011/23 Sya’ban 1432

Mengaplikasikan Tiga Kecerdasan

Kombinasi IQ, EQ, dan SQ dalam ESQ Model
Manusia sebagai mahluk sosial dikaruniai tiga potensi kecerdasan oleh Sang Pencipta agar mereka dapat beradaptasi dan berinteraksi secara harmonis dengan sesama. Tiga potensi yang dimaksud ialah Intelligence Quotient (IQ), Emotional Quotient (EQ) dan Spiritual Quotient (SQ). Ketiga kecerdasan tersebut (Intelektual, Emosional dan Spiritual) harus dikelola dengan baik dan diaplikasikan secara bersamaan dan terintegrasi sehingga kita dapat menjadi manusia sempurna (Insan Kamil).

Banyak orang memiliki IQ diatas rata-rata di sekolah, tetapi tidak banyak yang berhasil dan tidak beruntung dalam kehidupannya. Sebaliknya, banyak yang IQ nya biasa-biasa saja justru merekalah yang kemudian menjadi orang-orang sukses dalam pekerjaan dan karirnya serta menempati posisi strategis dalam suatu organisasi. Yang memiliki IQ di bawah rata-rata biasanya tergolong lebih luwes dalam bergaul, santun, berempati dan punya kecerdasan emosional (EQ). Namun yang ber IQ tinggi cenderung susah beradaptasi dan kurang berperasaan bahkan mungkin egois.
 

Sebuah contoh kejadian yang perlu disimak. Ada seorang yang punya hobi mengkoleksi barang-barang antik dan senang mempersaksikan bila ada orang yang datang ke rumahnya. Suatu ketika ada orang bertamu, seperti biasanya ia menunjukkan barang-barang itu dengan rasa bangga. Tapi tamu yang tidak punya kecerdasan emosional lantas berkata, barang-barang seperti itu banyak dijual di pinggir jalan di Jakarta dan harganya murah. Bagaimana tanggapan tuan rumah? Tentunya sangat kecewa dan sakit hati. Satu lagi . . . . Seorang ibu mengadakan acara syukuran. Dalam kata-kata pengantarnya, ibu itu menyampaikan kepada tetamu bahwa acara ini kami laksanakan karena merasa bersyukur atas keberhasilan anak kami menempati peringkat kelima naik kelas III SMA. Usai kata pengantar, salah seorang tamu yang tidak punya kecerdasan emosional (EQ) lalu berkata kepada tuan rumah, Bu . . anak saya di sekolah itu juara III naik kelas. Dapat dibayangkan bagaimana perasaan keluarga yang mengadakan hajatan itu. Masih banyak lagi kejadian seperti itu yang tidak memperhatikan aspek perasaan/emosional dalam berinteraksi sehingga orang itu kurang mendapat simpatik dalam mengejar kesuksesan, termasuk para pejabat, ia akan didemo dan diminta turun dari jabatannya bila mengabaikan EQ.

Untuk meraih kesuksesan dan disenangi oleh orang banyak, kuncinya adalah mensinergikan ketiga potensi kecerdasan tersebut kedalam satu formula yang dinamakan “ESQ Model”. Menurut Ary Ginanjar Agustian, ESQ Model adalah formula yang menyatukan unsur IQ, EQ dan SQ dalam suatu kesatuan sistem yang terintegrasi. Model ini menyerupai pola Thawaf Alam Semesta atau Thawaf di Ka’bah, yakni pusat orbit dan pusat edarnya memiliki daya tarik serta mampu menggerakkan benda yang ada di sekelilingnya untuk berputar secara seimbang. Sekiranya benda-benda itu keluar dari pusat edarnya, maka keseimbangan akan terganggu, bahkan boleh jadi bentrokan dan akan fatal.
Demikian pula halnya dalam ESQ Model, pusat edarnya harus memilik energi dan daya tarik tersendiri. Itulah Kecerdasan Spiritual (SQ). SQ diposisikan sebagai pusat edar dimensi Spiritual sehingga IQ dan EQ akan patuh dan menjungjung tinggi nilai-nilai spiritual sebagai makna dan tujuan hidup yang bersumber dari hati nurani (God Spot).


Kecerdasan intelektual memang penting dalam kehidupan agar dapat menemukan ilmu pengetahuan dan teknologi demi efisiensi dan efektifitas suatu pekerjaan. Juga EQ yang memegang peranan penting dalam hubungan antar manusia guna menjalin keharmonisan dan keakraban dalam beraktivitas. Namun tanpa SQ yang mengajarkan nilai-nilai kebenaran, akan terjadi kepincangan dalam kehidupan. Untuk itu perlu mensinergikan IQ, EQ dan SQ.


Apabila ketiga unsur tersebut bersinergi dan terintegrasi, maka setiap aktivitas manusia akan senantiasa mengorbit dan berorientasi pada nilai-nilai spiritual “Ilahiyah” dalam berbagai aspek kehidupan. Tapi manakala pusat orbit itu bergeser atau dipertukarkan, hancurlah tatanan jiwa dan tatanan sosial kemasyarakatan. Banyak fenomena menunjukkan ketika manusia berani mengabaikan atau mengganti pusat orbit (yang dalam hal ini peraturan pemerintah) dengan kepentingan pribadi atau golongan, kepentingan politik dan jabatan, kepentingan materi dengan melakukan korupsi dan lain-lain, akan berdampak pada kerusakan sistem pemerintahan dan perekonomian di suatu daerah .
Sekian banyak orang yang meraih sederetan predikat akademis (Prof. DR) tetapi tidak berhasil memperoleh dukungan dalam suatu pemilihan figur pemimpin. Sebaliknya, tidak sedikit hanya berpendidikan standar (SMA / S1) justru mereka meraih suara signifikan. Hal ini membuktikan bahwa kepandaian/kecerdasan intelektual (IQ) tidak menjadi ukuran untuk tampil sebagai sosok seorang pemimpin, baik di lembaga legislatif maupun di eksekutif. Memang berdasarkan penelitian, IQ hanya berperan dalam kehidupan dengan kisaran 6 %, maksimun 20 %. Selebihnya (80 – 94%) ditentukan oleh unsur EQ dan SQ.
 

Kiranya ketiga potensi yang dimiliki tersebut dapat diaplikasikan dalam kehidupan kita sehari-hari, baik sebagai individu maupun anggota masyarakat, khususnya bagi yang mendapat amanah sebagai pemimpin pada suatu komunitas; faktor kecerdasan emosional/ perasaan memegang peranan penting dalam menjalankan tugas kepemimpinan. Dengan kecerdasan ini kita merasa nyaman, damai dan disenangi oleh orang lain serta dapat selamat dunia akhirat, semoga!

Palu, 5 Juli 2011

Rihlah Roh dan Jasad Nabi Muhammad

Agenda Perjalanan Isra Mi'raj
Rihlah atau perjalanan Isra’ dan Mi’raj merupakan peristiwa luar biasa dan penting dalam sejarah perkembangan agama Islam. Perjalanan rohani dan jasmani itu memberikan kesegaran baru ke dalam jiwa Nabi Muhammad yang sebelumnya senantiasa dirundung malang dan tekanan-tekanan dari kafir Quraish, sekaligus menambah kekuatan iman dan keyakinannya akan kebesaran Allah SWT. Isra’ Mi’raj tersebut terjadi pada 27 Rajab tahun 621, satu tahun sebelum beliau hijrah ke Madinah, 1433 tahun yang silam.

Tentang peristiwa tersebut dapat ditemukan dalam Al-Qur’an yang artinya “Maha Suci Allah yang telah memperjalankan hambaNya (Muhammad) pada suatu malam dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsha yang Kami berkahi sekelilingnya, serta untuk memperlihatkan tanda-tanda kebesaran Kami. Sesungguhnya Allah Maha mendengar lagi Maha melihat” (Q.S. Al-Isra’ : 1)


Masjidil Haram yang dimaksud pada ayat ini ketika itu adalah masih sebatas lokasi di Mekkah dimana Ka’bah berada, belum seperti sekarang. Sementara Masjidil Aqsha di Palestina bukanlah bangunan semacam masjid-masjid masa kini, tetapi hanya suatu lapangan terbuka di atas bukit Zion (belakangan lahir gerakan Zionisme Yahudi). Di areal yang luas itu terdapat sebidang tanah berbentuk persegi empat. Itulah bekas reruntuhan “Baitul Maqdis” yang dibangun oleh Nabi Sulaeman tahun 950 sebelum Nabi Isa. Konon, di tempat itulah Nabi Muhammad melakukan shalat sunat 2 rakaat sebelum beliau Mi’raj naik ke Sidratul Muntaha.
 

Tentang tanda-tanda kebesaran Allah yang diperlihatkan kepada Nabi Muhammad pada malam itu dimaksudkan agar ketika menerima wahyu mengenai alam ghaib dan keajaiban-keajaiban dunia akhirat seperti jagat raya, planet bimasakti/gugusan bintang, sorga, neraka dan lain-lain, Nabi Muhammad tidak bingung dan tidak ragu-ragu lagi karena sudah pernah dirasakan dan disaksikan dengan mata kepala sendiri bahkan dengan pengalamannya itu, beliau dapat lebih mudah menjelaskan dan meyakinkan umat manusia tentang hal-hal yang bersifat ghaib dan rahasia.
 

Kedua jenis perjalanan tersebut, baik Isra’ maupu Mi’raj bukan hanya rohani Nabi Muhammad, bukan pula mimpi, tetapi terjadi dengan tubuh kasar bersama roh halusnya sebagai Mu’jizat, keluar dari kebiasaan dan berada di luar jangkauan akal manusia. Tuhan semesta alam melakukan apa yang dikehendakiNya tanpa dibatasi hukum-hukum alam, tidak butuh kausalitas karena Dia sendiri menciptakan hukum sebab akibat. Semua mahluk ciptaanNya tunduk kepadaNya, karena ZatNya, SifatNya dan PerbuatanNya berada diatas semuanya. Jika manusia dewasa ini sudah mampu menjelajahi ruang angkasa dengan tubuh dan rohnya, maka peristiwa Isra’ mi’raj itu mudah sekali diterima oleh akal manusia yang percaya bahwa Allah itu Maha Kuasa terhadap apa yang Ia kehendaki.
 

Sebelum Nabi Muhammad diperjalankan, terlebih dahulu menjalani Operasi Bedah Dada (Syaqqus Shadri) oleh Malaikat Jibril. Syaqqus Shadri dilakukan bukanlah karena beliau mengidap penyakit, tetapi bertujuan mengisi sesuatu untuk menyesuaikan kondisi jasmani rohaninya dengan jarak tempuh dan kecepatan jelajah yang akan dilalui. Sama halnya dengan astronot yang akan menjelajahi ruang angkasa, tentunya perlu dikarantina dan latihan-latihan baik fisik maupun mental. Rihlah/perjalanan luar biasa itu menggunakan kendaraan yang dinamai “Buraq” dengan kecepatan menyerupai kilat sekejap mata, sehingga Nabi Muhammad dapat kembali di Mekah pada malam itu juga menjelang subuh.
 

Dalam perjalanan horizontal Isra’ dari Mekkah ke Yerusalem diperlihatkan berbagai tamzil ibarat dan tempat-tempat bersejarah. Sedangkan perjalanan vertikal Mi’raj naik ke Sidratul Muntaha Mustafa menjelajahi jagat raya menembus langit yang tujuh lapis. Langit yang banyak disebut dalam Al-Qur’an, tapi belum banyak dibicarakan dan dipecahkan oleh ilmu pengetahuan hingga saat ini.

Apakah sebenarnya langit yang tujuh itu? Namun Nabi Muhammad SAW telah menjelajahinya 1433 tahun yang lalu. Seperti halnya perjalanan penting yang dilakukan oleh manusia, biasanya diakhiri pertemuan dengan pejabat yang mengundangnya sebagai suatu kehormatan. Demikian pula puncak perjalanan Isra’ Mi’raj pada malam itu. Nabi Muhammad diperkenan dan diizinkan menghadap ke hadirat Allah Azza wa Jalla. Sebagai kenang-kenangan sekaligus amanah yang diberikan oleh Allah kepadanya dan seluruh umat manusia ialah “SHALAT” lima waktu sehari semalam.

Menyimak proses penerimaan Shalat sebagai kewajiban, maka kita akan sepakat bahwa perintah shalat mempunyai keistimewaan tersendiri karena Rasulullah, Muhammad SAW yang langsung menerimanya dari Allah SWT di Sidratul Muntaha, suatu tempat diatas langit ketujuh. Berbeda dengan kewajiban-kewajiban yang lain seperti puasa, zakat, haji dan lain-lain yang diterima melalui perantaraan malaikat Jibril.
 

Karena pentingnya shalat itu, maka Nabi Muhammad pada setiap kesempatan selalu menegaskan dengan sabdnya “Shalat itu adalah tiang agama, barangsiapa yang melaksanakan shalat berarti ia menegakkan agama, dan siapa yang melalaikannya, maka ia meruntuhkan agamanya”. Berikut firman Allah “Sesungguhnya shalat akan mencegah perbuatan hina dan tercela" (Q.S.Al-Ankabut : 45).

Palu, 27 Juni 2011 M/ 25 Rajab 1432 H

Pemberdayaan Tiga Otak

Pada dasarnya, semua orang memiliki jumlah sel otak yang sama dan berpotensi menjdi cerdas dan genius yang luar biasa. Secara garis besarnya, otak manusia terbagi 3 bagian, yaitu otak kanan, otak tengah dan otak kiri.

Otak kanan berfungsi dalam hal persamaan, khayalan/imajiinasi, kreativitas, bentuk, gambar, emosi, seni dan warna. Daya ingatnya bersifat jangka panjang (long term memory). Otak kanan ini mempunyai kemampuan memvisualisasikan hal-hal yang bersifat abstrak. Sedangkan otak kiri berfungsi dalam hal perbedaan, angka, urutan, tulisan, bahasa dan logika, daya ingatnya bersifat jangka pendek (short term memory). Sementara otak tengah berperan sebagai penghubung antara otak kanan dan otak kiri. Aktivitas otak tengah akan membantu menyeimbangkan kinerja otak kanan dan otak kiri. Dengan demikian kita manusia tidak akan didominasi oleh otak kanan atau otak kiri saja. Orang yang didominasi oleh otak kirinya, akan merespon/menanggapi suatu masalah dengan menganalisisnya, namun bila otak kanannya lebih dominan akan meresponnya dalam bentuk visual atau gerakan-gerakan motorik.

Usia anak-anak adalah usia ideal dalam pengaktivitasian otak tengahnya karena pada anak-anak belum mengalami kebiasaan dominan menggunakan salah satu bagian otaknya. Sangat berbeda dengan orang dewasa yang mempunyai kecenderungan menggunakan salah satu belahan otaknya secara dominan. Agar otak kanan, tengah dan otak kiri dapat bersinergi dan bekerja maksimal, maka limbic (otak) tersebut harus terbuka, yaitu seseorang dalam kondisi senang dan nyaman ketika belajar. Proses belajar haruslah menggembirakan, konsentrasi dan penuh antusias terhadap apa yang sedang dipelajarinya. Karena ketika berada dalam kondisi/suasana seperti itu, otak tengah akan terbuka dan semua informasi dapat dengan mudah masuk kedalam otak kiri atau otak kanan. Kalau otak kiri harus terus menerus merekam informasi secara sadar, namun otak kanan mampu merekam sesuatu secara tidak sadar dan instan, seperti halnya kamera foto. Hal ini dapat dilakukan oleh guru-guru di sekolah/ madrasah/pesantren dan orang tua di rumah.

Semua orang akan bisa menjadi cerdas dan jenius yang luar biasa jika hal ini diperlakukan kepada anak sejak usia mudah (balita – 15 tahun). Yang susah ialah mengubah kebiasaan para guru dalam mendidik murid/siswa-siswanya. Mereka mendidik seperti ia dididik dahulu. Anak-anak diajar untuk tidak melakukan kesalahan. Kalau anak menjawab soal/pertanyaan tidak benar langsung disalahkan dan mencoret pekerjaannya dengan garis merah tanpa solusi atau menghukumnya dengan berdiri didepan kelas. Ini yang salah! Anak-anak jadi takut dihukum dan merasa terktekan. Demikian juga kebanyakan orang tua dirumah, terlalu banyak larangan, pencegahan terhadap anaknya dan menghukum (memarahi/memukulnya) bila berbuat kesalahan. Dalam keadaan perasaan tertekan yang menakutkan ini, limbic/otak anak akan tertutup. Apapun yang diterima tidak akan banyak terekam dalam memorinya. Mereka tidak tahu bahwa anak-anak bukanlah orang dewasa seperti dirinya. Dunia anak-anak adalah bermain dan itu merupakan proses pembelajaran memfungsikan otak kanannya.

Semua anak manusia berpotensi menjadi jenius di bidang apapun, yang penting dapat menemukan bidang yang paling menarik dan diminati sehingga tertarik untuk terus belajar dan menekuninya, tidak mesti menguasai banyak disiplin ilmu. Seorang dokter spesialis yang jenius, adalah orang bodoh ketika mobilnya rusak karena tidak tahu mekanik. Seorang pakar/jenius di bidang kebumian dan kedirgantaraan, ia menjadi bodoh ketika bicara tentang kehidupan sesudah bumi dan langit dihancurkan, seorang pakar dibidang ilmu-ilmu non eksak tapi ia buta tentang ilmu eksak atau sebaliknya.

Untuk menjadikan anak cerdas dan jenius, tidaklah langsung mengsinergikan ketiga otak tersebut, harus diawali sejak anak masih berumur dibawah 5 tahun (balita) dengan pemberian ASI Eksklusif, asupan makanan yang bergizi, latihan-latihan stimulasi/rangsangan otak dan penyediaan lingkungan yang mendukung. Usia balita adalah masa keemasan (golden age) dalam pembentukan dan pengisian sel-sel otak anak. Untuk itu orang tua/keluarga harus memperhatikan masa-masa pertumbuhan dan perkembangan anaknya. Periode/masa seperti ini hanya satu kali dalam kurun waktu usia manusia. Kalau masa ini terabaikan, jangan heran bila anak itu malas, tidak bersemangat/susah menerima pelajaran, akaibatnya tidak naik kelas dan pada akhirnya putus sekolah.

Khusus untuk pemberdayaan otak kanan, telah terbentuk Lembaga Pusat Kegiatan Belajar (LPKB) ”OTAK KANAN” di Palu. Fokus programnya adalah membimbing peserta didik untuk melatih memfungsikan otak kanannya yang selama ini didominasi oleh otak kirinya. Jika memori otak kanan telah berfungsi, maka tidak akan lupa lagi apa yang pernah dilihat atau didengar meskipun terpapar sekali saja. LPKB tersebut menerima peserta dari tingkat SD, SLTP, SLTA dan Mahasiswa dengan bidang studi Matematika, Kimia, Fisika dan Bahasa Inggris. Sistem belajarnya dikelompokkan sesuai tingkat pendidikan dan bidang studi yang dipilih. Pembetukan Lembaga Kegiatan Belajar ini diprakarsai oleh Nur Ilham bersama Azmi Ridwan,S,Si yang berlokasi di Jl. Manunggal No. 11 Palu, Kelurahan Tatura Utara, 085240410396.

Palu, 20 Juni 2011

100 Tahun Kumpulan Surat-Surat Kartini

Buku Door Duisternis Tot Licht
Raden Ajeng Kartini adalah salah seorang wanita yang mendapat penghargaan sebagai Pahlawan Nasional, meski ia tidak pernah memanggul senjata dan tidak gugur dalam peperangan melawan penjajahan Belanda. R.A. Kartini hanya dikenal sebagai pelopor perjuangan emansipasi yang hendak mengangkat harkat dan martabat kaum wanita melalui artikel dan surat kepada teman-teman sahabat penanya.

Kumpulan surat-surat Kartini yang dikirim kepada teman-temannya baik di Indonesia maupun di Eropa, oleh Abendanon (Menteri Kebudayaan, Agama dan Kerajinan) Hindia Belanda diberi Judul “Door Duisternis Tot Licht” dan diterbitkan pada tahun 1911, 100 tahun yang silam. Tahun 1922, buku Door Duisternis Tot Licht diterjemahkan kedalam bahasa Melayu oleh Armin Pane dengan judul “Habis Gelap Terbitlah Terang”. Judul ini bukan diambil dari salah satu topik surat-surat itu, tetapi Habis Gelap Terbitlah Terang adalah inti dari pada keseluruhan surat-surat Kartini, yang mana nasib kaum Hawa saat itu berada dalam keadaan gelap terbelenggu, namun dengan ide-idenya itu dapat menggugah hati para pemuka masyarakat dan pemerintah serta wanita itu sendiri untuk terbit/bangkit berkompetisi dengan kaum Adam.


Tahun 1938, buku tersebut dicetak ulang dan diterbitkan dalam format yang berbeda dari sebelumnya. Armin Pane membagi surat-surat Kartini itu kedalam lima bab. Pembagian ini dilakukan untuk menunjukkan adanya tahapan perubahan sikap dan pemikiran Kartini selama berkorespondensi dengan teman-teman/sahabat penanya. Pada buku versi baru ini, Armin menciutkan jumlah surat Kartini dari 108 pucuk menjadi 87 karena adanya kemiripan isi beberapa surat pada buku Door Duisternis Tot Licht. Menurut Armin, surat-surat Kartini bagus dibaca sebagai roman kehidupan perempuan. Ini pula yang menjadi salah satu pertimbangan mengapa surat-surat tersebut ia bagi dalam lima bab.


Raden Ayu Kartini lahir di Jepara, 21 April 1879 dari kalangan ningrat/bangswan Jawa. Kartini adalah anak ke-5 dari 11 bersaudara kandung/tiri. Karena keturunan bangsawan, Kartini diperbolehkan sekolah tapi hanya sampai ELS (Europese Lagere School), setingkat sekolah dasar (SD). Setelah tamat ELS pada usia 12 tahun dan sudah menanjak gadis remaja, maka Kartini harus tinggal di rumah karena dia sudah mulai dipingit (dikurung/ tidak dibebaskan lagi keluar rumah), pada hal dia ingin sekali dan mampu melanjutkan studinya di Betawi atau di Eropa, negeri Belanda seperti teman-teman sekolahnya yang lain.


Walaupun dipingit, tapi karena Kartini belajar bahasa Belanda di ELS, maka di rumah ia banyak membaca buku-buku, majalah dan koran Eropa serta gemar berkorespondensi/surat menyurat dengan teman-temannya. Lewat bacaan-bacaan itu, Kartini tertarik pada kemajuan cara berpikir wanita Eropa, sehingga timbul hasrat keinginannya untuk memajukan wanita pribumi yang statusnya rendah dan terbelakang. Makanya ia banyak menulis artikel dan surat guna menyalurkan inspirasi dan cita-citanya. Perhatiannya tidak hanya semata-mata soal emansipasi wanita, tetapi juga masalah sosial secara umum. Ia memperjuangkan wanita agar memperoleh kebebasan menuntut ilmu pengetahuan, persamaan hak, peran dan status sosial dalam masyarakat seperti laki-laki.


Pada umur 24 tahun, tepatnya tanggal 12 November 1903, Kartini dinikahkan dengan Bupati Rembang Djoko Adhiningrat yang sudah pernah memiliki tiga isteri, mereka dikaruniai anak pertama sekaligus terakhir yang diberi nama RM. Soesalit. R. A. Kartini meninggal dunia pada tanggal 17 September 1904, lima hari pasca persalinannya dalam usia 25 tahun.


Apa isi dari sekian banyak surat Kartini? Surat-surat Kartini pada umumnya mengungkap tentang kendala yang harus dihadapi saat bercita-cita menjadi perempuan Jawa yang lebih maju. Ia prihatin melihat kondisi sosial budaya masyarakat, terutama tentang keadaan perempuan pribumi. Budaya Jawa dipandang sebagai penghambat kemajuan. Dia ingin wanita Indonesia memiliki kebebasan menuntut ilmu pengetahuan seperti wanita di Eropa. Ide dan cita-cita Kartini semuanya atas dasar Ketuhanan, kemanusiaan, keindahan, kebijaksanaan dan cinta tanah air.


Sebagian besar suratnya menggambarkan penderitaan lahir batin perempuan Jawa akibat kungkungan adat istiadat, antara lain tidak boleh bebas duduk di bangku sekolah selain anak bangsawan, harus dipingit, dinikahkan dengan laki-laki yang tidak pernah dikenalnya serta harus bersedia dimadu dan lain-lain perlakuan yang tidak adil. Pandangan lain yang diungkapkan dalam surat-suratnya adalah kritik terhadap agamanya. Kartini mempertanyakan mengapa kitab suci Al-Qur’an harus dilafalkan dan dihafalkan tanpa diwajibkan untuk difahami. Ia juga mempertanyakan dengan alasan ajaran agama dijadikan pembenaran bagi kaum laki-laki untuk berpoligami.
 

Raden Ajeng Kartini bukan hanya seorang tokoh Emansipasi yang mengangkat derajat kaum wanita Indonesia saja, melainkan dia adalah tokoh nasional. Ide dan gagasan pembaharuannya itu, ia telah berjuang demi kepentingan bangsanya. Cara pikir dan prilakunya sudah melingkupi perjuangan besar meski dia hanya di wilayah Jepara dan Rembang Jawa Tengah.

Atas perjuangannya lewat korespondensi itu, Presiden Soekarno menerbitkan Surat Keputusan (Kepres) No.108/1964 tanggal 2 Mei 1964 tentang Penetapan R.A. Kartini sebagai Pahlawan Kemerdekaan Nasional, sekaligus menetapkan hari lahir Kartini 21 April diperingati setiap tahun sebagai Hari Besar Nasional “HARI KARTINI”, April tahun 2011 ini merupakan HUT Kartini yang ke- 132. Kiranya Kartini-Kartini generasi muda dengan cita-cita dan ide cemerlang akan terbit lebih terang menutupi kegelapan dan ketertinggalan, khususnya kaum wanita Indonesia. Semoga!

 Palu, 20 April 2011

Selasa, 07 April 2015

Vasektomi, Pengganti Isteri ber-KB

Anatomi Vasektomi
Program Keluarga Berencana Nasional yang dilaksanakan selama empat dasawarsa sejak tahun 1970, telah memberikan kontribusi yang besar terhadap penurunan laju pertumbuhan penduduk dari 2,32 menjadi 1,3, demikian juga tingkat kesuburan Total Fertility Rate (TFR) mampu menurunkan dari 5,6 perwanita tahun 1970 menjadi 2,3 tahun 2010 sehingga dapat mencegah pertambahan penduduk Indonesia sekitar 80 juta jiwa, suatu jumlah yang tidak kecil.

Dalam kurun waktu 40 tahun ini, berhasil pula melembagakan Norma Keluarga Kecil Bahagia Sejahtera (NKKBS). Namun, masalah nasional yang dialami selama ini adalah rendahnya kesertaan Pria (suami) dalam ber KB, termasuk di Sulawessi Tengah. Berdasarkan data di BkkbN Provinsi Sulawesi Tengah November 2010 tercatat peserta KB Aktif sebanyak 372615 ( 77, 36 %) dari 481647 PUS, hanya 535 ( 0, 14 % ) peserta KB Pria. Penyebab utamanya karena pengaruh sosial budaya masyarakat yang beranggapan bahwa KB adalah urusan wanita (isteri).

Upaya Peningkatan Partisipasi Suami dalam ber KB
 

Kalau sang isteri tidak bisa ber-KB karena mengalami kontraindikasi dan gangguan kesehatan terhadap semua jenis kontrasepsi, maka semestinya sang suamilah yang menggantikan isterinya menjadi peserta KB untuk menjarangkan kehamilan dan atau mengakhiri kelahiran anak.
Ada tiga cara/metode kontrasepsi untuk Pria, yaitu KB Alamiah (Pantang Berkala), Kondom dan Vasektomi. Yang disebut terakhir ini, adalah metode yang paling ampuh dan sangat efektif untuk jangka panjang, sekali untuk selamanya kecuali jika ingin menyambungnya kembali. Makanya cara ini dinamai juga Kontrasepsi Mantap ( Kontap ).

Secara harfiah, Vasektomi berarti memutus disertai pengikatan saluran sperma sehingga menjadi buntu. Hal ini dimaksudkan guna mencegah penyaluran sperma dari buah zakar ke liang sanggama. Namun tidak berarti tidak ada penyemprotan saat orgasme dan ejakulasi. Pancaran dan penyemprotan tetap ada, hanya saja cairan air mani itu tidak mengandung lagi sperma sebagai benih yang memungkinkan terjadinya kehamilan. Beda dengan kebiri. Kebiri (pada binatang) buah zakarnya yang dipotong dan di keluarkan sehingga hormon kejantanannya tidak terbentuk dan birahinya hilang. Sedangkan Vasektomi atau Medis Operasi Pria (MOP) saluran sperma yang diputus tapi hormon kelaki-lakiannya tidak terganggu.

Pemutusan dan pengikatan pada Vasektomi dilakukan melalui operasi kecil pada kantong buah zakar (testis) dan hanya memerlukan waktu 10 – 15 menit. Dokter spesialis untuk metode ini sudah tersedia dan siap melayani klien setiap hari kerja di Rumah Sakit Nasana Pura Palu secara gratis. Sekedar untuk diketahui bahwa program Vasektomi bukan untuk semua Pasangan Usia Subur (PUS), tetapi hanya diperuntukkan bagi PUS yang sudah punya anak 2 orang atau lebih dan mereka sudah sepakat tidak ingin menambah jumlah anak lagi.

Tentang kelebihan dan keunikan metode MOP ini, berikut testimoni dan kesaksian salah seorang yang sudah di Vasektomi, panggil saja Sule. Ia ikut program vasektomi karena merasa iba melihat isterinya yang sering terganggu kesehatannya dan kurang bergairah akibat efek samping dari penggunaan kontrasepsi hormonal (Pil/Suntik/Implant), sementara mereka sudah punya anak 3 orang. Menurut Sule (49 tahun), Vasektomi itu tidak ada pengaruh negatifnya pada diri kita, buktinya saya. Badan terasa tambah segar dan bersemangat, rasa capek dan lemas usai sanggama cepat hilang, malah tambah joss, kesan Sule kepada penulis.

Selain Sule, penulis juga menemui Murni (42 tahun) salah seorang ibu yang suaminya sudah di Vasektomi. Menjawab pertanyaan bagaimana kepuasan Ibu dan keperkasaan Bapak pasca Vasektomi? Secara jujur ibu dari 5 orang anak ini mengatakan biasa-biasa saja, sang suami tetap bergairah, tidak ada penurunan libido / nafsu biologisnya, bahkan tambah perkasa, kadang-kadang ia meminta di luar waktu-waktu yang biasanya. Saya sebagai isteri, ya tanpa alasan harus melayaninya karena tidak ada kekhawatiran akan hamil lagi, demikian pengakuan ibu Murni.

Mengakhiri tulisan ini, kami menghimbau kepada ibu-ibu para isteri yang barangkali sudah bosan disuntik dan minum pil tiap hari atau mengalami gangguan kesehatan dari pemakaian alat kontrasepsi selama bertahun-tahun atau mungkin sudah puluhan tahun. Adukan keluhannya kepada suami, semoga bapak dapat merasakan apa yang ibu rasakan dan timbul rasa kasihannya sehingga ia bersedia berpartisipasi mengganti ibu menjadi akseptor atau peserta KB dengan Kontrasepsi Mantap “Vasektomi” sebagai salah satu bentuk kecintaan suami terhadap isteri.

Palu, 17 Desember 2010

HIV/AIDS dan Upaya Penanggulangannya

HIV (Human Immunodeficiency Virus) adalah nama suatu virus, sedangkan AIDS (Acquired Immune Deficiency Syndrome) yaitu kumpulan gejala penyakit yang ditimbulkan akibat rusaknya fungsi kekebalan tubuh yang terinfeksi HIV. Virus HIV/AIDS merupakan parasit intersel (yang hidup dalam sel) dan tidak dapat berkembang di luar tubuh manusia. Ia baru dapat berkembang biak secara ganas setelah masuk kedalam tubuh manusia dan berpotensi menginfeksi sel-sel yang lain.

Salah satu sel dalam tubuh manusia ialah sel darah putih yang berfungsi memproduksi zat kekebalan tubuh. Apabila sel ini lemah atau mati, maka daya tahan/kekebalan tubuh akan menurun sehingga mempermudah masuknya berbagai penyakit atau timbulnya kelainan akibat virus yang tadinya tidak berbahaya menjadi berbahaya.


Berdasarkan data di Dinas Kesehatan Sulawesi Tengah September 2010, tercatat pengidap HIV sejumlah 78 kasus, AIDS 50 kasus dan yang telah meninggal dunia sebanyak 28 orang. Jumlah kumulatif ini tersebar di semua kabupaten/kota, kecuali Kabupaten Buol. Walau jumlahnya relatif kecil, tapi dapat dipastikan masih banyak yang belum terdeteksi, mengingat penyakit HIV/AIDS menganut fenomena “Gunung Es”, kelihatan kecil, yang tidak nampak jauh lebih besar.


Cara Penularan HIV/ AIDS
 
– Hubungan seksual; Virus HIV bisa ditemukan pada seluruh tubuh pengidap/penderita HIV/AIDS, terutama pada darah, kelenjar getah bening, cairan vagina atau sperma ketika berhubungan seksual, baik antara laki-laki dengan lawan jenisnya maupun sesama kelamin. Saat itulah virus akan masuk dan menular serta menginfeksi darah (wanita) dari laki-laki pengidap HIV/AIDS.
– Melalui pembuluh darah; penularan dapat terjadi pada pemberian / transfusi darah yang berasal dari penderita HIV/AIDS. Juga dapat terjangkit akibat pamakaian peralatan medis yang tidak steril seperti pisau, gunting, jarum suntik, speculum, peralatan tatto yang terkenah darah pengidap HIV/AIDS.
– Melalui ibu kepada bayinya; penularan virus dari ibu ke bayi dapat terjadi baik selama dalam kandungan, saat persalinan maupun semasa menyusui bayi.


Gejala infeksi HIV/AIDS sebagai berikut:
 
– Penurunan ketahanan/kekebalan tubuh yang ditandai dengan seringnya sakit berat untuk suatu penyakit yang biasanya ringan.
– Terdapat penyakit yang biasanya mudah disembuhkan menjadi susah disembuhkan.
– Menurunnya berat badan secara jelas setiap bulan.
– Ada gejala pembesaran kelenjar getah bening di seluruh tubuh.


Upaya Pencegahan
 
HIV/AIDS termasuk salah satu virus penyakit yang sangat berbahaya karena sampai saat ini belum ditemukan obat/vaksin yang mampu membasmi secara tuntas. Yang ada baru sebatas memperlambat perkembangannya. Dengan demikian kita harus waspada dan berusaha mencegahnya secara dini, sebab sekali terserang sangat susah disembuhkan, bahkan akan terinfeksi seumur hidup dan akan diakhiri dengan kematian. Untuk mencegah merebaknya penyakit yang fatal itu, diperlukan pendekatan multi dimensi untk mendorong keluarga dan institusi masyarakat agar dapat meningkatkan ketahanan keluarganya serta berkehidupan seksual yang wajar, sehat dan halal. Tidak dengan ganti-ganti pasangan.


Khusus buat remaja, telah dikembangkan Pusat Informasi dan Konsultasi Kesehatan Reproduksi Remaja (PIK – KRR) oleh BKKBN yang hingga akhir tahun 2010 ini telah terbentuk sebanyak 204 unit, tersebar di 11 kabupaten/kota se Sulawesi Tengah. Wadah PIK-KRR ini dibentuk baik di lingkungan sekolah (Siswa SLTP, SLTA, dan Mahasiswa) maupun di tempat lain seperti pada Remaja Masjid dan Gereja.

Kegiatannya meliputi Triad KRR, yakni masalah Narkoba, Seksualitas dan HIV/AIDS. Tujuannya untuk memberi pemahaman kepada remaja tentang ketiga masalah tersebut sehingga mereka dapat memelihara Kesehatan Reproduksinya dan terhindar dari penularan HIV/AIDS, Semoga!

Palu, 18 Nopember 2010

Hari Keluarga Nasional 2010 di Palu

Presiden SBY membuka Harganas XVII di Palu
Di negara-negara Barat terkenal peringatan Family Day (Hari Keluarga) dan Valentine Day (Hari Kasih Sayang). Di Indonesia, dikenal Harganas (Hari Keluarga Nasional). HARGANAS dicanangkan tanggal 29 Juni 1993. Tanggal ini dilatarbelakangi pada 29 Juni 1949, saat para pejuang kembali bersua kepangkuan keluarga masing-masing setelah berperang mempertahankan kemerdekaan yang telah diproklamirkan 17 Agustus 1945. Peristiwa tersebut lebih dikenal dengan nama “Yogya Kembali”.

Meski telah ditetapkan 29 Juni 1993, tapi pelaksanaannya secara nasional untuk pertama kalinya nanti pada tanggal 29 Juni 1994, yang digelar di Sidoarjo Jawa Timur. Selanjutnya secara bergilir dilaksanakan di kota-kota propinsi. Tahun 2010 ini, Palu Ibukota Propinsi Sulawesi Tengah mendapat giliran dan penghargaan dari Pemerintah Pusat sebagai pelaksana Peringatan Hari Keluarga Nasional dan Bulan Bhakti Gotong Royong Masyarakat tingkat nasional. Adalah keliru bila dikatakan bahwa event nasional ini tanggung jawab penuh BKkbN. BKkbN (Pusat dan Daerah) hanya menjembatani dan memfasilitasinya. Tapi yang berkepentingan dan bertanggung jawab adalah Pemerintah Provinsi, Kota Palu dan masyarakat Sulawesi Tengah pada umumnya.


Filosofis dan hakikat dari Harganas yang diperingati setiap tahun bertujuan agar masyarakat sadar dan memahami bahwa keluarga merupakan basis atau awal dari kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara. Dalam keluarga, setiap individu anak manusia buat pertama kali mengenal dan mendapatkan pendidikan, perlindungan, kasih sayang, nilai-nilai sosial budaya dan norma-norma agama. Dengan kata lain, pertumbuhan/perkembangan fisik dan kecerdasan intelektual, emosional serta spritual seorang anak sangat ditentukan oleh keluarga itu sendiri. Lebih jauh, tujuan Harganas adalah untuk membangun dan meningkatkan kesadaran masyarakat akan pentingnya peran keluarga dalam menciptakan kehidupan harmonis, serta menjunjung tinggi moral, solidaritas dan persatuan bangsa.


Sejak 2004, peringatan Harganas lebih strategis lagi karena dilaksanakan secara terpadu dengan kegiatan Bulan Bhakti Gotong Royong Masyarakat (BBGRM) yang dimotori Tim Penggerak PKK. Tema “Dengan Semangat Gotong Royong Kita Mantapkan Pemberdayaan Masyarakat dan Revitalisasi Program KB Nasional” Pemaduan dua kegiatan ini dimaksudkan untuk menggugah kembali nilai-nilai kegotongroyongan masyarakat, sekaligus merupakan wujud kerja sama yang harmonis antara jajaran BKkbN dan Tim Penggerak PKK, karena memang mempunyai kesamaan Visi dan Misi. Keduanya bertumpu pada keluarga sebagai sasaran utamanya. Melalui program KB dan peran PKK, pemberdayaan keluarga terus disemarakkan dan ditingkatkan.


Gotong royong sebagai tata nilai dan identitas bangsa Indonesia merupakan tali pengikat solidaritas kekeluargaan dalam berbagai keperluan. Namun budaya ini mulai pudar, rasa sosial dan saling membantu sudah sulit didapatkan, bahkan di beberapa komunitas sudah hilang sama sekali. Hal ini akibat perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi serta arus globalisasi yang menggiring manusia pada sikap individualis dan materialis. Semuanya dinilai dengan materi atau uang, mereka mau kerja kalau dibayar. Untuk mengembalikan dan melestarikan budaya gotong royong tersebut, diperlukan penggerakan masyarakat agar mereka tahu, mau dan mampu melaksanakan kegiatan-kegiatan dengan semangat gotong royong. Salah satu upaya ke arah itu ialah kegiatan Roadshow Semarak Gotong Royong KB-PKK-Kes. ke daerah-daerah kabupaten / kota se Propinsi Sulawesi Tengah. Tujuannya, pertama, meningkatkan cakupan peran serta keluarga dalam KB dan PKK, kedua, menumbuhkan kesadaran keluarga agar senantiasa memperbaiki kualitas kehidupannya dengan mempertahankan budaya gotong royong. Tidak hanya itu, muatan kegiatannya pun selalu ditingkatkan, bukan cuma seremonial besar-besaran yang sifatnya sekedar upacara untuk menyatakan bahwa Harganas dan BBGRM itu diperingati, tetapi diusahakan kegiatannya terkesan, bermakna dan terinternalisasi dalam keluarga, antara lain dengan melalui “Bedah Kampung”.


Bedah Kampung sebagai kegiatan andalan dalam memperingati Harganas dan BBGRM setiap provinsi dan kabupaten/kota, yaitu kampung dan rumah-rumah penduduk yang kurang layak, diperbaiki menjadi rumah yang layak huni, demikian juga sarana dan fasilitas umum seperti air bersih, sanitasi, MCK, sarana transportasi jalan dan lain-lain.
 

Bedah Kampung tahun 2010 untuk Sulawesi Tengah, dipilih Kelurahan Layana, Kecamatan Palu Timur. Kelurahan yang berpenduduk 3023 jiwa dari 776 KK ini akan dijadikan percontohan dalam memperingati Harganas XVII dan BBGRM VII tingkat nasional, untuk selanjutnya diharapkan menjadi cikal bakal Pengembangan model Pembangunan Pedesaan Terpadu Berbasis Keluarga di seluruh pelosok tanah air, khususnya di Sulawesi Tengah. Kegiatannya melibatkan segenap komponen masyarakat, swasta dan pemerintah secara gotong royong. Dalam pembangunan kampung/desa/ kelurahan terpadu semacam ini, ada dua kegiatan utamanya, yaitu perbaikan/renovasi fisik dan pemberdayaan keluarga dalam bentuk nonfisik untuk meningkatkan kesejahteraan warganya.
 

Dari kegiatan tersebut berhasil merobah wajah Kelurahan Layana yang sebelumnya gersang, kumuh dan minus dari berbagai aspek kehidupan. Kini nampak indah dan asri, demikian pula rumah-rumah penduduk dan fasilitas lainnya telah memenuhi syarat kesehatan. Makanya, areal ini dinamai Kelurahan Layana Indah (sebelumnya Kelurahan LayanaTua). Lokasi ini akan dikunjungi Presiden Susilo Bambang Yudhoyono pada acara puncak Harganas ke- 17 dan BBGRM ke- 7 yang semestinya tanggal 29 Juni 2010. Namun karena presiden saat itu berada di luar negeri, maka agenda nasional itu diundur hingga tanggal 20 Juli 2010. Upacara puncak peringatan bertempat di lokasi ex. STQ / MTQ Jabal Nur Palu, akan dihadiri sejumlah menteri dan semua gubernur, bupati / walikota serta sekitar 7000-an tamu lainnya, bukan hanya dari jajaran BKkbN Pusat dan Daerah (Provinsi, Kabupaten / Kota), tetapi juga seluruh TP. PKK Propinsi, Kabupaten/Kota serta Unit-Unit Pelaksana Program KB dari 32 propinsi se Indonesia.

Selamat HARGANAS XVII dan BBGRM VII tahun 2010, kiranya keluarga-keluarga Indonesia tetap menunjukkan identitas asli ketimurannya dengan semangat gotong royong, penuh rasa kekeluargaan membangun masyarakat, bangsa dan negara sejahtera. dengan motto: Keluarga sejahtera, bangsa dan negara jaya. Semoga!


Palu, 19 Juli 2010