Rabu, 30 Maret 2016

Jilbab Vs Baju dan Celana Ketat



Busana hijab/jilbab telah menjadi trend masyarakat muslim Indonesia dewasa ini, bukan saja di kota-kota, tetapi sudah meluas sampai ke desa-desa pedalaman. Hijab dan jilbab keduanya adalah bahasa Arab (hijaabon/Jalaba). Arti harfiyahnya berbeda namun maksud tujuannya sama. Hijab berarti “penghalang” yang dalam hal ini, bagian-bagian tubuh wanita yang tidak boleh diperlihatkan (aurat) dihalangi atau dilindungi dengan pakaian, sedangkan jilbab bermakna “menghimpun”. Maksudnya menyatukan atau merangkai pakaian dari atas ke bawah untuk menutupi tubuh. Jadi, Hijab atau Jilbab adalah kain yang menutupi tubuh wanita dari ujung rambut sampai ujung kaki. Atau kain penutup kepala dan leher yang dirangkai dengan baju, rok atau celana untuk melindungi seluruh tubuh wanita kecuali kedua telapak tangan, kaki dan wajah.

Pemakaian busana muslim untuk menutup aurat tekait dengan tuntunan syariat Islam antara lain firman Allah SWT “Wahai Nabi (Muhammad) katakanlah kepada isteri dan anak-anak wanitamu dan isteri orang-orang mukmin agar mengulurkan baju kurung/jilbabnya keseluruh tubuh mereka . . . . . .” (Q.S. Al-Ahzab: 59). Penggunaan pakaian jenis jilbab/hijab ini mengalami perkembangan cukup pesat sejak akhir tahun 1990-an yang sebelumnya dianggap asing, bahkan ada instansi pemerintah melarang memakai jilbab dengan dalih menyalahi model pakaian seragam. Sekarang situasi kondisi telah berubah. Jilbab bukan hanya dikenakan saat akan menghadiri pengajian, pesta dan pertemuan-pertemuan resmi, tetapi sudah menjadi pakaian sehari-hari, ke pasar, ke tempat kerja, pakaian siswa/mahasiswa, dan rekreasi.

Dengan maraknya peminat pengguna modis (mode Islam) seperti itu, mengundang para desainer/perancang mode dan industri fashion yang memproduksi berbagai model dan corak plus aksesori dan variasinya. Ada jilbab yang simple dan instan (langsung dipasang) serta ada yang rumit cara pemakaiannya. Namun pada prakteknya, penggunaan busana  itu banyak yang menyimpang dari makna jilbab/hijab yang sebenarnya. Tidak sedikit hanya sekedar ikut trend dan mode masa kini dan merasa diri telah berpakaian islami tanpa menyadari apakah sudah sesuai dengan syar’i atau malah justru mengundang dosa pada diri dan orang lain.
 
Pakaian ketat yang mengundang dosa
Ada empat kriteria busana wanita yang syar’i, yakni menutupi aurat, tidak tembus pandang, tidak ketat, dan tidak menyerupai pakaian laki-laki. Pada rubrik ini penulis ingin menyoroti pemakaian jilbab dengan baju dan celana ketat. Islam mewajibkan berjilbab untuk menutup aurat dan lekukan tubuh. Tapi pada kenyataannya, para wanita muslim baik remaja maupun yang sudah menikah mengacuhkan syarat dan kriteria syar’i tersebut. Mereka merasa berbusana muslim karena sudah tutup kepala dan leher namun tidak melindungi bentuk dan lekuk tubuh pada dada dan punggungnya, terlebih lagi jika dipadu dengan celana jeans ketat dan baju kaos pendek yang hanya sampai sebatas punggung sehingga masih menampakkan lekuk tubuh termasuk yang ada pada dada mereka. Yang sangat jelas secara fitrah semua laki-laki normal (tua muda) akan bergairah melihat apalagi membayangkannya.

Memang, mungkin bagi wanita yang senang memakai busana seperti itu tidak ada maksud untuk memancing/menggoda lawan jenisnya, dan juga tidak ada syahwat pada dirinya. Mereka memakai pakaian seperti itu semata-mata karena praktis, enak, dan nyaman sebagai suatu ekspresi seni baginya. Namun tanpa mereka ketahui bahwa kaum Adam yang melihatnya dapat tergoda, hingga membangkitkan syahwat/libido dan frekuensi denyutan jantungnya meningkat seketika… Astaghfirullah!

Kepada kaum Hawa, jika memang senang dan merasa lebih praktis dengan menggunakan jilbab instan berpasangan dengan celana panjang, pilihlah celana yang agak longgar sehingga tidak memberi bentuk pada paha dan betis yang kemudian dipadukan dan dikombinasikan dengan baju lengan panjang agak ke bawah mendekati batas lutut sehingga menutupi aurat Anda dengan sempurna. Dengan tips ini anda akan tampil  cantik, indah, anggun  dan menarik bagi siapa yang melihatnya serta tidak mengundang dosa.
 
Hijab syar'i
Akhirnya penulis menghimbau kepada para pria yang mempunyai isteri dan anak-anak wanita, ajaklah mereka memakai busana muslim yang benar. Model dan coraknya terserah sesuai bodi dan selera masing-masing, yang penting menutup aurat, tidak tipis/transparan dan tidak menampakkan lekuk-lekuk tubuh yang menggoda. Wallahu a’lam bishshawab. (Palu, 1 Februari 2016)

Rabu, 26 Agustus 2015

Mencium Hajar Aswad


Tidak lama lagi, tepatnya mulai tanggal 21 Agustus 2015 calon jamaah haji Indonesia dan negara-negara lain akan berangkat ke tanah suci Mekkah untuk memenuhi panggilan Nabi Ibrahim as. Salah satu sasaran para jamaah disana  ialah mencium Hajarul Aswad. Ada apa dengan Hajar Aswad? Hajar Aswad adalah sebongkah batu berwarna hitam yang terpasang di sudut Ka’bah. Bentuknya bundar dan berlubang dengan lingkaran sekitar 30 cm. Garis tengahnya 10 cm, lebih besar dari lingkaran muka seseorang. Karena itu bagi yang akan mencium Hajar Aswad harus memasukkan kepalanya kedalam lubang batu hitam itu. Di sekeliling bagian luarnya diikat dengan pita perak agar tetap utuh, tidak mudah terlepas saat diusap dan dicium.
Hajar Aswad
Hajarul Aswad merupakan batu Ruby’ sejenis batu Akik yang bisa dibentuk menjadi permata, punya energi dan khasiat seperti Green Sojol. Hajar Aswad diturunkan oleh Allah dari surga ketika Ka’bah dibangun oleh malaikat sebagai bangunan pertama di muka bumi. Selanjutnya dipelihara dan dijadikan tempat ibadah Nabi Adam as. Firman Allah “Sesungguhnya rumah yang mula-mula dibangun untuk (tempat ibadah) bagi manusia ialah Ka’bah di Mekkah” (Q.S. Ali Imran : 96). Ka’bah (Baitullah) di bumi Mekkah, secara vertikal sejurus dengan Baitul Makmur di langit ke tujuh, seandainya ia runtuh pas menimpah Ka’bah. 
Thawaf
Konon, Hajar Aswad pernah terlepas dari Ka’bah dan tertibun cukup lama, tapi ketika Nabi Ibrahim merenovasi Ka’bah, Ibrahim menyuruh anaknya Ismail mencari batu yang cocok untuk dipasang disini. Ismail pun pergi mencari dan akhirnya menemukan sebongkah batu yang unik dan luar biasa karena mengkilat. Saking gembiranya, Ibrahim bersama anaknya menggotong mengitari Ka’bah sambil mencium batu ajaib itu baru kemudian memasangnya di sudut Ka’bah. Dari sinilah kira-kira awal mula mencium hajarul aswad, lalu kemudian Nabi Muhammad saw mengsunatkan  kepada umatnya menciumnya kalau bertawaf mengelilingi Ka’bah. 

Tentang asal muasal, keunikan dan kemuliaan batu itu, Nabi menjelaskan “Batu (Hajar Aswd) dan Makam Ibrahim) adalah Batu Ruby’ (batu mulia) yang berasal dari surga. Kalau bukan karena sentuhan manusia-manusia berdosa akan menyinari antara timur dan barat. Setiap orang sakit yang memegang dan menciumnya akan sembuh dari sakitnya” (HR. Tirmidzi). Pada hadist yang lain  dikatakan “Hajarul Aswad diturunkan dari surga warnanya lebih putih dari susu. Dosa-dosa anak cucu Adamlah yang menjadikannya hitam”. Selanjutnya sabda beliau “Demi Allah, Allah akan mengutus batu (Hajarul Aswad) pada hari kiamat, ia memiliki 2 mata yang bisa melihat, memiliki lisan yang bisa berbicara dan akan menjadi saksi bagi siapa yang pernah menyentuh dan menciumnya” (HR. Tirmidzi & Ibnu Abbas). Dari hadist ini menjadikan setiap jamaah haji/umrah berusaha sekuat tenaga untuk menciumnya. 

Ketika Ka’bah akan ditinggikan dari 4,32 menjadi 8,64 meter tahun 606, Hajar Aswad dilepas dan disimpan pada suatu tempat. Karena kemuliaan batu ruby’ itu, maka sewaktu akan dipasang kembali, timbul ketegangan diantara suku/kabilah-kabilah Quraisy. Masing-masing kabilah ngotot mengklien dirinya yang lebih pantas mengangkat dan memasang kembali batu itu pada posisi semula. Untung saja usulan Abu Umayyah disetujui mereka yang mengatakan, masalah ini kita serahkan kepada siapa yang pertama kali memasuki masjid ini melalui pintu Bani Syaribah besok pagi. Ternyata orang yang pertama kali masuk lewat pintu itu ialah Muhammad yang waktu itu belum menjadi nabi. Sewaktu Muhammad diberitahu tentang hal ini, ia lalu membentangkan sorbannya dan meletakkan Hajar Aswad di tengah-tengahnya kemudian mempersilahkan perwakilan dari masing-masing kabilah memegang sisi sorban dan mengangkatnya bersama-sama. Setelah sampai disekitar Ka’bah, Muhammad sendiri yang meletakkan Hajar Aswad pada posisi semula. Suku-suku Quraisy pun merasa puas dan mereka damai kembali. 

Hajar Aswad sekarang sudah licin karena terus menerus diusap dan dicium milyaran manusia, setiap saat siang dan malam selama 24 jam tanpa henti para jamaah berdesak-   desakan berebutan untuk mencium batu itu, mereka merasa tidak lengkap kedatangannya di tanah suci Mekkah bila tidak mencium hajar aswad, sampai-sampai ia harus membeli tenaga orang lain. Memang banyak calo/joki yang menawarkan jasa untuk membantu mengantar mencium. Penulis sendiri ketika menunaikan ibadah haji 2003 meminta bantuan 2 mahasiswa mengantar mencium batu hitam itu. Mencium Hajar Aswad memberi kesan dan kepuasan tersendiri, seakan-akan kita mencium Nabi Ibrahim, Nabi Ismail dan Nabi Muhammad saw. 

Mengakhiri tulisan ini, penulis mengingatkan kepada seluruh calon jamaah haji bahwa meski hajar aswad mempunyai  kemuliaan, keunikan dan khasiat tersendiri, tapi janganlah  memaksakan diri untuk menciumnya karena beresiko tinggi, bisa fatal terinjak-injak karena padatnya manusia diseputar ka’bah. Mencium hajar aswad hukumnya sunat dan tidak termasuk  rukun dan wajib haji, artinya tidak mempengaruhi sah tidaknya ibadah haji. Sebagai pengganti dari mencium batu itu ialah dengan melambaikan/mengacungkan tangan ketika berada pada posisi arah Hajar Aswad sambil membaca Bismillah… Allahu Akbar…. lalu mencium tangan pada setiap putaran dari 7 putaran tawaf mengelilingi ka’bah.

Ziarah ke Gua Tsur


Meskipun tidak ada dalil yang menunjukkan keutamaan Gua Tsur, nabi tidak pernah menganjurkan dan tidak ada kaitannya dengan rukun/wajib haji, tapi banyak jamaah berusaha mengunjungi/menziarahi Gua Tsur sebagai salah satu tempat bersejarah dalam penyebaran agama Islam. 
Mulut Gua Tsur
Gua Tsur berada pada salah satu puncak dari 3 puncak deretan pegu- nungan Jabal Tsur, letaknya kurang lebih 7 km sebelah selatan Ka’bah kearah Thaif. Gua ini dinamai demikian karena ditemukan oleh orang yang bernama Tsur bin Abdu Mapah. Gua Tsur berada pada ketinggian sekitar 450 meter dari permukaan daratan, lebih tinggi dari Gua Hira (280 m). Luasnya kira-kira 3 x 3 m, tinggi 1,25 m, bentuknya cekung menyerupai kuali, mempunyai 2 pintu masuk dibagian depan dan belakang. Penulis waktu di tanah suci tahun 2003 ingin sekali naik gunung untuk memasuki Gua itu, tapi Ketua Yayasan/ pemandu ziarah tidak mengizinkan karena beresiko. Untuk itu, Ketua Yayasan mengarahkan jamaah ke Gua Hira di Jabal Nur tempat turunnya Alquran pertama. Memang di kaki gunung Jabal Tsur dipajang papan peringatan dalam beberapa bahasa, termasuk bahasa Indonesia untuk berhati-hati ketika naik ke Gua Tsur.
Jamaah haji yang bersiap memasuki Gua Tsur

Sejarah Gua Tsur sangat erat kisahnya dengan peristiwa perjalanan hijerah Nabi Muhammad SAW. Di Gua ini nabi bersama Abu Bakar bersembunyi dari kejaran kafir Quraisy. Perjalanan ini terjadi ketika kaum kafir Quraisy sudah sampai pada puncak kejengkelannya melihat perkembangan Islam yang semakin pesat. Dalam musyawarahnya, para tokoh/elit kafir Quraisy sepakat akan membunuh Muhammad, lalu mereka mengumpulkan para pemuda dari kabilah-kabilah yang ada di Mekkah. Atas rencana jahat itu, Allah SWT memberi isyarat kepada Rasul-Nya untuk meninggalkan kota Mekkah. Namun sebelumnya, beliau pergi menemui Abu Bakar dan meminta kesediaannya menemani dengan kesepakatan berangkat di malam hari dari rumah masing-masing dan akan bertemu di Jabal Tsur. 

Rupanya rencana nabi tersebut tercium oleh orang-orang kafir, maka pada malam itu juga pemuda Quraisy yang telah ditugaskan, mengepung rumah Rasulullah dan akan membunuhnya ketika keluar rumah. Mengsiasati keadaan yang menegangkan itu, beliau menyuruh adik sepupunya, Ali bin Abu Thalib untuk menempati pembaringannya supaya para pengepung mengira bahwa yang tidur itu adalah Muhammad. 

Waktu Rasulullah akan keluar meninggalkan rumahnya, turun ayat yang artinya “Kami (Allah) adakan dinding (sekatan) di depan dan di belakang mereka dan Kami tutup mata mereka sehingga tidak bisa melihat” (Q.S. Yaa Siin : 9). Berkat bacaan ayat ini, sejumlah pemuda yang mengepung rumah Rasulullah tertidur pulas sehingga tidak ada satu orangpun diantara mereka melihat nabi keluar rumah. Ketika mereka terbangun dan tidak sabar menunggu nabi keluar, mereka lalu mendobrak pintu rumah nabi, ternyata yang ada ditempat tidur itu adalah Ali bin Abu Thalib, maka bertambah marahlah kaum kafir Quraisy. Mereka mengejar/mencari jejak nabi di seluruh pelosok kota Mekkah dan sekitarnya tapi tidak ditemukan, akhirnya mereka mengumumkan bagi siapa yang menemukan atau menunjukkan dimana Muhammad berada akan diberi hadiah 100 ekor unta. Ada yang mencarinya dalam kota, pinggir/luar kota bahkan ada yang sampai mendaki gunung Tsur. 

Di  Gua Tsur yang tadinya diperkirakan Muhammad ada di dalamnya, tapi karena ada sarang laba-laba dan sarang burung merpati di pintu masuk sehingga mereka berkesimpulan bahwa tidak mungkin ada manusia dalam gua ini. Memang ada diantara mereka nekad mau masuk gua tapi yang lainnya berkata untuk apa masuk? Itu sarang laba-laba dan sarang merpati di pintu gua. Keberadaan algojo kafir Quraisy di luar gua terlihat oleh Abu Bakar, ia menggigil dan pucat karena ketakutan. Melihat Abu Bakar seperti itu, nabi meyakinkan, jangan kira kita hanya berdua, sesungguhnya kita bertiga, yang ke-3, Dialah yang menggenggam kekuasaaan, Allah SWT. Keadaan mereka dalam gua tersebut digambarkan oleh Allah yang artinya “… Ingat ketika keduanya (dalam Gua Tsur), ia (Muhammad) berkata kepada sahabatnya (Abu Bakar) jangan bersedih dan jangan takut, sesungguhnya Allah menyertai kita…”(Q.S. At-Taubah : 40). Tidak lama kemudian para pembunuh bayaran itu meninggalkan gua dengan tangan kosong.

Setelah Nabi Muhammad dan Abu Bakar merasa aman dari pencarian, mereka keluar gua untuk melanjutkan perjalanannya ke Yastrib (Madinah). Selama 3 hari 3 malam dalam gua, makanan diantarkan oleh Abdullah, putra Abu Bakar secara sembunyi-sembunyi. Peristiwa perjalanan hijerah ini terjadi pada September 622 atau tahun ke-13 dari kenabian Muhammad SAW.